Apa yang kita cari diinternet ? pasti ilmu pengetahuan selain itu pasti DUIT........ok

Minggu, 17 Mei 2009

Minggu, 17 Mei 2009 SBY Tantang Debat, JK Menyindir

JAKARTA - Calon Presiden Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang berpasangan dengan Boediono (SBY-Berboedi) mengajak kompetitornya, Megawati Soekarnoputri-Prabowo Subianto (Mega-Bowo), dan Jusuf Kalla-Wiranto (JK-Win), untuk bersaing secara sehat pada Pilpres 8 Juli 2009 mendatang. SBY bahkan menantang untuk melakukan debat kandidat bila hal itu memang tertuang dalam aturan Komisi Pemilihan Umum (KPU).

“Saya mengajak (kepada semua capres dan cawapres) untuk berkompetisi secara sehat pada Pilpres mendatang. Kalau memang debat ada aturannya dan menurut KPU itu penting, saya berharap bisa dilakukan secara berbudaya dan beretika,” kata SBY disela-sela pendaftaran dirinya dan Boediono di KPU, Sabtu petang (16/5).

Pria yang masih menjabat Presiden RI itu juga meminta doa restu kepada masyarakat Indonesia atas pencalonan kedua kali tersebut. “Doa restu dari semua masyarakat sangat penting. Segala yang kami lakukan tentu untuk kepentingan masyarakat Indonesia,” cetusnya.

JK Sindir 23 Parpol Pro SBY

Hawa saling sindir di antara capres yang akan bertarung dalam pemilihan presiden (pilpres) Juli mendatang, mulai dirasakan. Kemarin, Jusuf Kalla (JK), capres yang diberangkatkan Golkar dan Hanura, melontarkan pernyataan yang diarahkan kepada parpol-parpol pendukung capres dari Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

JK mengatakan, dia tidak khawatir dengan 23 parpol yang mendukung pasangan SBY-Boediono di pilpres. Sebab, dia yakin, dukungan parpol-parpol tersebut hanya permainan politik elite partai. Para pendukungnya, lanjut JK, akan bebas menentukan capres-cawapres yang didukung di pemilu presiden.

Kalla mengibaratkan 23 parpol yang berdesak-desakan mendukung SBY-Boediono adalah bus kota yang ngetem di satu tempat, sedangkan para penumpangnya berada di tempat lain. “Tidak apa-apa bus-nya parkir di tempat lain, membuat padat, asal penumpangnya berada di sini,” kata JK di acara silaturahmi dengan tim pendukungnya di Hotel Four Seasons, Jakarta, kemarin (16/5). Acara ini digelar sebelum pasangan tersebut mendaftar ke KPU.

JK menegaskan, dia dan Wiranto adalah pasangan harmonis yang memenuhi syarat ideal koalisi politik, yakni pasangan Jawa-luar Jawa, nasionalis-religius, didukung partai nasionalis-religius terbuka, dan kombinasi unik karakter sipil-militer. “Kami bukan pasangan pilkada, tapi pasangan pilpres,” katanya. Pernyataan “bukan pasangan pilkada” itu bisa dimaknai bahwa JK menyindir pasangan SBY-Boediono yang sama-sama berasal dari Jawa Timur.

Sebelumnya, tepatnya di acara deklarasi SBY-Boediono di Bandung Jumat malam lalu (15/5), sambutan kedua tokoh itu juga bisa dimaknai sedang menyindir JK. Misalnya, saat itu SBY menyebut alasannya memilih Boediono karena tidak berasal dari parpol dan bukan pengusaha. Ini lah yang dimaknai menyindir JK, karena ketika menjadi cawapres SBY, latar belakangnya dikenal sebagai politisi dan pengusaha.

Pada kesempatan itu, cawapres JK, Wiranto menambahkan, meski berstatus underdog, tim kampanye nasional JK-Wiranto tidak perlu khawatir. Karena pada putaran kedua nanti, pasangan JK-Wiranto atau Megawati-Prabowo akan saling mendukung. “Karena itu, kami akan tetap berkomunikasi dengan Megawati-Prabowo,” terang Wiranto.

Dia meminta tim kampanye nasional JK-Wiranto memahami kekuatan dan kelemahan musuh, serta kekuatan dan kelemahan diri sendiri dalam melaksanakan strategi teknis pemenangan pemilu. “Dalam perang, kekuatan bukan yang terpenting. Karena yang paling penting dalam pertempuran adalah penguasaan cuaca, medan pertempuran, kekuatan lawan, dan lainnya,” terang mantan Panglima ABRI ini.

Usai acara silaturahmi di Hotel Four Seasons, pasangan JK-Wiranto langsung mendaftar pilpres ke KPU. Pasangan ini menjadi yang pertama mendaftar ke lembaga tersebut. JK-Wiranto didukung Golkar dan Hanura yang memperoleh 125 kursi DPR dan sekitar 18 persen suara pemilu. Dengan demikian, pasangan ini memenuhi ketentuan UU yang mensyaratkan pasangan capres-cawapres didukung partai yang memiliki 20 persen total kursi DPR atau 25 persen total suara nasional.

DAFTAR

Pasangan JK-Wiranto tiba di kantor KPU sekitar pukul 11.00 WIB. Selanjutnya, sekitar pukul 13.00, pasangan berikutnya yang datang adalah Megawati Soekarnoputri dan Prabowo (Mega-Pro) yang diberangkatkan PDIP dan Gerindra.

Kedatangan Mega dan Prabowo layaknya seorang pejabat. Mega dan Prabowo datang dengan satu mobil Lexus bernomor polisi B 8471 BS. Menyusul di belakangnya, mobil para petinggi PDIP dan Gerindra. Mereka bersama-sama berangkat dari kediaman Megawati di Jalan Teuku Umar, Menteng, Jakarta.

Beberapa petinggi dua partai yang tampak adalah Sekjen PDIP Pramono Anung, Ketua Umum Gerindra Suhardi, Wakil Ketua Umum Gerindra Fadli Zon, Sekjen Gerindra Ahmad Muzani, dan beberapa petinggi PDIP yang lain. Tampak pula adik Megawati yang juga Ketua Umum PNI Marhaenisme Sukmawati Soekarno dan Guruh Soekarno Putra, serta Ketua Umum Partai Buruh Muchtar Pakpahan.

Saat pendaftaran, Megawati dan Prabowo terkesan kikuk. Sambutan yang diberikan pun terkesan masih menonjolkan visi partai masing-masing. Saat sesi tanya jawab pun, Megawati tidak bersedia melayani wartawan dan sesi itu pun langsung ditutup.

Hanya sekitar 30 menit proses pendaftaran itu berlangsung. Setelah itu, ratusan pendukung Mega-Pro ternyata sudah memenuhi halaman luar gedung KPU. Mereka membawa bendera dan atribut PDIP dan Gerindra. Dengan berjalan kaki, mereka menyusul iring-iringan mobil petinggi PDIP dan Gerindra kembali menuju ke Teuku Umar.

Dua jam kemudian giliran pasangan SBY-Boediono (SBY Berboedi) mendaftar ke KPU. Kali ini pasukan dari pasangan yang sama-sama asal Jawa tersebut lebih banyak. Itu wajar, mengingat mereka didukung lima parpol peraih kursi Senayan dan 17 parpol kecil. Para petinggi parpol pendukung SBY Berboedi juga datang ke KPU. Termasuk Ketua Umum PBB M.S. Kaban dan Sekjen PAN Zulkifli Hasan. Kedatangan SBY Berboedi itu dilakukan setelah deklarasi koalisi yang dilakukan di kediaman SBY di Cikeas, Bogor. SBY dan Boediono datang dengan mengenakan batik biru.

Batik SBY terlihat lebih gelap daripada yang dikenakan Boediono. Saat memberikan sambutan, semua diberikan kepada SBY. Boediono hanya berdiri satu langkah di belakang SBY, mendengarkan pernyataan SBY. Tidak ada sesi tanya jawab yang ditawarkan kepada wartawan saat pendaftaran SBY Berboedi.

Sekjen PAN Zulkifli Hasan menyatakan, dukungan partainya terhadap SBY Berboedi sudah bulat. Kesepakatan itu merupakan hasil Rapimnas di Jogja beberapa waktu lalu. Namun, dia mengakui bahwa deklarasi koalisi di Cikeas itu belum ada tanda tangan Ketua Umum PAN Soetrisno Bachir. “Ya (belum). Namun, insya Allah, sudah beres,” ujarnya. (bay/noe/iw/kum/gus/jpnn)

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda